(Mitos Kanak Lenek) GEMPA dan “BOYOT, BOYOT!”

0
40
views
(Gambar/ilustrasi) sumber: sahabatnesia.com

Syaratsyarat.com/fiksi – Waktu kecil dulu, ketika terjadi gempa, aku selalu mendengar orang-orang tua berseru “Boyot, boyot, boyooot…!” Aku terus menyimpan rasa penasaran kenapa seruan it uterus diulang-ulang hingga gempa berhenti. Sampai akhirnya aku mendapatkan sebuah cerita anak-anak yang berhasil mengobati sedikir rasa penasaranku. Meskipun cerita, atau mitos, atau dongeng tersebut (aku tidak bisa menentukan genre yang pas untuk itu) sama sekali tidak dapat diterima akal.

Konon, di lapisan terdalam Bumi (tanah) hidup seekor naga besar, yang teramat sangat besarnya. Sehingga tubuhnya yang sangat besar itu meringkuk dan melingkar-lingkar di kedalaman Bumi karena tidak muat pada ruang bumi yang ditempatinya. Naga itu tidak pernah bergerak sama sekali, dan hanya tertidur sejak terciptanya langit dan Bumi. Menurut cerita, Sang Naga bertugas untuk menjaga keseimbangan Bumi oleh Sang Pencipta, sehingga tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Dikisahkan, sang Naga raksasa merupakan naga yang sangat pemarah. Sang Naga memiliki hubungan yang sangat erat (semacam sensor) dengan permukaan Bumi, di mana manusia hidup dan beraktivitas. Karenanya, jika manusia-manusia yang hidup di permukaan Bumi banyak melakukan dosa-dosa besar, Sang Naga akan terusik ketenangannya dan ia bisa bergerak kapan saja.

Sang Naga bisa merasakan apa saja perbuatan manusia yang ada di permukaan Bumi. Jika manusia melakukan dosa besar, maka Sang Naga akan mengamuk dan Bumi akan bergoncang. Goncangan inilah yang kita kenal sebagai “gempa”. Semakin besar dosa-dosa manusia yang dilakukan di atas permukaan Bumi, semakin hebat pula gempa yang terjadi. Dan gempa-gempa kecil yang terjadi merupakan tanda bahwa ekor Sang Naga sedang bergerak, serta menandakan bahwa orang-orang yang hidup di daerah yang terkena gempa telah berbuat sebuah dosa.

Menurut cerita, jika seluruh badan Sang Naga bergerak mengamuk, maka kiamat dunia akan terjadi.

Ketika ekor Sang Naga bergerak, maka manusia yang terkena dampak getarannya dianjurkan berseru “Boyot, boyot, boyot!”

Konon, seruan itu dapat meredakan amarah Sang Naga dan membuatnya tertidur kembali. Seruan boyot-boyot tersebut merupakan sebuah ungkapan pengakuan dosa dan serah diri, sehingga Sang Naga yang marah tenang dan diam menyeimbangkan Bumi.

***

Tetapi ini hanya mitos kanak-kanak! Seruan boyot-boyot itu sendiri sebenarnya tidak diketahui secara pasti makna dan artinya, serta tidak diketahui diserap dari bahasa mana. Diduga, seruan boyot-boyot itu merupakan seruan peringatan masyarakat Sasak (Desa Lenek) tentang terjadinya gempa, sehingga orang-orang yang tidak menyadari gempa atau sedang tertidur segera bangun, waspada dan bersiaga atas terjadinya gempa. Seruan boyot-boyot merupakan pergeseran  dari kata-kata:

“Bueq iyut, bueq iyut, buek iyut…!” ( Bueq = habis, dan iyut = bergoncang ), sehingga Bueq iyut bermakna bahwa semua yang ada dipermukaan tanah sedang mengalami goncangan (gempa). Karena kebiasaan lidah masyarakat serta minimnya pengetahuan makna seruan tersebut, Seruan “Bueq iyut, bueq iyut!” mengalami perubahan pengucapan menjadi:

Boyot, boyot, boyooot…!”

 (syaratsyarat.com/*)

 

Catatan:

*Mitos ini bersumber dari masyarakat Desa Lenek, dan tersebar di kalangan kids jaman old.

**Kids jaman now mungkin sudah tidak pernah lagi mendengar mitos/dongeng ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.