Yang Bercita-cita Jadi Dokter, Masuk sini !

0
39
views
gambar animasi dokter

Mau kuliah kedokteran? Artikel ini mengupas tuntas perjalanan panjang dan suka-duka mahasiswa kedokteran dari awal masuk hingga menjadi seorang dokter.

Kalo ditanya, apa sih pilihan jurusan kuliah yang paling bergengsi di Indonesia? Mungkin banyak yang bakal jawab, jurusan Kedokteran!

Ya, tiap tahunnya ribuan lulusan SMA bersaing ketat untuk masuk jurusan yang biasanya memiliki “passing grade” paling tinggi ini. Motivasi para lulusan SMA yang mau masuk jurusan Kedokteran ga jauh-jauh dari alasan berikut:

“Keren lah bisa jadi dokter. Profesi idaman calon mertua banget!”

“Kata mama ambil Kedokteran aja. Kerjaannya udah jelas. Dapat duit banyak. Bisa cepat kaya.”

“Gue jago dan suka banget Biologi dari dulu. Cocoklah jurusan Kedokteran buat gue.”

“Menjadi dokter itu adalah pekerjaan mulia. Gue mau menjadi sosok penolong di masa depan.”

Apapun motivasinya, sebenernya sah-sah saja, asalkan ketika sudah menjadi dokter, ia bisa bekerja dengan integritas. Masalahnya.. ga sedikit lulusan SMA yang kaget ketika berhasil masuk jurusan ini karena ternyata perkuliahan dan dunia Kedokteran jauh berbeda dari yang mereka bayangkan selama ini. Banyak yang TIDAK mengerti apa yang akan mereka pelajari dan tantangan yang akan mereka hadapi untuk menjadi seorang dokter. Di beberapa kasus, ada yang jadi begitu tertekan, kehilangan motivasi belajar, ga bisa survive, dan worst case-nya ya Drop Out dari jurusan prestisius ini. Tentunya kamu ga mau dong nasibnya seperti itu?

Nah, pada kesempatan kali ini saya mau berbagi cerita tentang seluk-beluk perkuliahan dan dunia Kedokteran di Indonesia. Oiya, kita kenalan dulu deh ya. Nama saya Thomas Adhi Nugroho Chaidir. Panggil aja Thomas. Saya menempuh S1 Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran, Universitas Padjajaran. Saat ini saya sedang menempuh masa Internsip sebagai dokter.

Pada artikel ini, saya akan membongkar berbagai pandangan keliru seputar jurusan Kedokteran. Saya juga akan menjabarkan perjalanan dan tantangan yang akan kamu hadapi untuk menyandang gelar dokter dan berkarya di tengah masyarakat. Pada akhirnya, saya berharap kamu bisa mengerti realita dunia Kedokteran di Indonesia dan memutuskan apakah kamu benar-benar punya alasan yang kuat untuk menjadi seorang dokter.

gambar animasi dokter

 

Apa sih Ilmu Kedokteran itu?

Sebelum kita masuk lebih dalam tentang jurusan Pendidikan Dokter, ada baiknya kita ngerti dulu tentang Ilmu Kedokteran itu sendiri. Apa sih bedanya ilmu Kedokteran dengan ilmu Biologi yang selama ini kita pelajari di SMA?

Menurut Merriam-Webster, Ilmu Kedokteran didefinisikan sebagai:

“ilmu atau seni yang berkecimpung dalam pemeliharaan kesehatan, serta pencegahan, pengobatan atau penatalaksanaan penyakit.”

Dari kata-kata “kesehatan” dan “penyakit”, kita dapat menyimpulkan bahwa ada faktor tertentu yang bisa dipengaruhi “kesehatan” dan “penyakit” ini, yaitu tubuh manusia. Dengan kata lain, Ilmu Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari cara kerja tubuh manusia, kesetimbangannya, faktor-faktor yang dapat mengganggu fungsi dan kesetimbangan tersebut, serta cara mempertahankan dan mengembalikan ketidakseimbangan dan gangguan fungsi tersebut ke fungsi dan kesetimbangan yang normal.

Jadi, kalo kamu suka pelajaran Biologi tapi sebenernya lebih suka ke pengamatan flora dan fauna seperti di acara National Geographic atau suka teknologi rekayasa genetika seperti di film Jurassic Park; kamu akan nyasar kalo masuk Kedokteran .

Skills apa aja sih yang dibutuhkan untuk belajar Kedokteran?

Dari definisi singkat tentang Ilmu Kedokteran, kita bisa menjabarkan skills apa aja nih yang dibutuhkan untuk mendalami ilmu ini.

1. Pemahaman Konsep yang Kuat di Biologi, Kimia, hingga Fisika dan Matematika

“Saya kan di SMA sekarang nilai Biologinya bagus terus nih. Meskipun matematika dan fisika ancur, saya mau jadi dokter aja ah.”

“Kita kan di SMP dan SMA udah belajar banyak tentang tubuh manusia. Kita belajar sistem darah, sistem gerak, sistem pencernaan, banyak deh. Jadi sebenernya materi kuliah Kedokteran udah dipelajari dari dulu kan?”

Ga sedikit yang pengen kuliah Kedokteran semata-mata karena suka atau punya nilai Biologi yang bagus di SMA. Ini adalah kesalahan besar yang selalu terjadi berulang setiap tahunnya di kalangan mahasiswa baru Kedokteran. Untuk survivemenjadi mahasiswa Kedokteran dan menjadi dokter yang handal di masa depan, ga cukup cuma melihat kemampuan Biologi SMA aja.

Belajar tentang tubuh manusia di tingkat kuliah kedokteran itu jauh berbeda dibandingkan belajar Biologi di SMP dan SMA. Di SMA, mungkin kamu akan “selamat” jika bisa sekadar menghafal nama-nama dan urutan tulang dengan benar. Di SMA, mungkin kamu masih bisa mendapat nilai bagus atau bahkan dapat ranking jika bisa menghafal fungsi dan penyakit Sistem Reproduksi Manusia tanpa memahami keterkaitannya dengan organ lain yang dipelajari di bab-bab sebelumnya.

Tapi.. di tingkat S1, ilmu ini berbeda sekali. Ilmu Kedokteran tingkat perkuliahan jauh lebih terpadu dan fokus pada kesetimbangan tubuh. Kamu tidak cukup hanya mengenal, tapi kamu juga harus memahami fungsi dari benda-benda dan roda-roda mesin yang ada di dalam tubuh manusia beserta INTERAKSINYA hingga dapat berfungsi dengan penuh. Ketika mempelajari penyakit yang menyerang suatu organ, kamu harus bisa mengkoneksikannya dengan kondisi organ-organ lain, bahkan menganalisisnya sampai tahap sel.

Nah, banyak anak SMA yang ga ngeh kalo cara kerja sel dan sistem tubuh itu kebanyakan masuk ke ranah ilmu Kimia. Ga percaya? Ilustrasinya nih:

  • Ion mengatur komunikasi antar sel.
  • Reaksi kimia memandu banyak proses biologis.
  • Tiap zat yang ada atau masuk ke dalam tubuh harus tepat dosis agar tidak menimbulkan efek samping.
  • Dll.

Oleh karena itu, pemahaman konsep Kimia yang kuat (mulai dari Asam dan Basa, Reaksi Kimia, sampai Kimia Organik) akan memberikan fondasi yang kokoh untuk memahami berbagai interaksi sistem tubuh.

Hal lain yang juga mengagetkan anak SMA adalah ilmu Fisika juga kepake di kuliah Kedokteran. Contohnya:

  • Pemahaman konsep Fisika Kuantum akan membantu kamu memahami bagaimana alat X-Ray bekerja.
  • Jika kamu tidak menguasai konsep Vektor di Fisika SMA, kemungkinan kamu akan kesulitan memahami sistem EKG dan alat rekam jantung sebagai salah satu alat emergensi di dunia medis.
  • Jika kamu tertarik menjadi Dokter bidang rehabilitasi atau Bedah Tulang, konsep Sistem Katrol dan Kesetimbangan Momen di Fisika akan sangat membantu menjadi dasar penatalaksanaan/treatment untuk patah tulang, misalnya.
  • Dsb.

Nah, supaya jago di Kimia dan Fisika, skills Matematika-nya juga harus oke dong 😉

2. Kemampuan Berpikir Sistematis

Ilmu Kedokteran sangat fokus pada interaksi antar sel dan sistem organ tubuh. Tubuh manusia bisa dianalogikan sebagai suatu pabrik yang terbagi menjadi berbagai unit kerja. Tubuh manusia membentuk suatu alur yang dalam fungsi optimalnya dapat memberikan dan memasok segala macam zat yang diperlukan untuk menjalankan fungsi kehidupan. Di sisi lain, tubuh manusia juga dapat mengeluarkan segala zat sisa atau racun yang dihasilkan sistem kehidupan tersebut. Ketidakseimbangan antara keduanya menjadi salah satu penyebab dan gejala penyakit. Oleh karena itu, dalam memahami tubuh manusia secara keseluruhan, dibutuhkan skill untuk berpikir secara menyeluruh atau sistematis. Kita ga bisa menganalisis suatu organ secara parsial/terisolasi dari organ lainnya seperti pendekatan belajar pelajaran Biologi di SMA pada umumnya. Nah, skill berpikir sistematis ini justru lebih mirip dengan skill yang dipakai oleh mereka yang sekolah Teknik Kimia dan Teknik Industri, lho. 

3. Kemampuan Bahasa Inggris yang Oke

“Ah ga perlu-perlu amat lah Bahasa Inggris kalo masuk Kedokteran. Sekolahnya di Indonesia, praktik kerja jadi dokter di Indonesia, pasiennya juga orang Indo!”

Salah besar! Ilmu kedokteran masa kini sangat erat dengan 2 bahasa, yaitu Bahasa Latin dan Bahasa Inggris. Yep, textbooksyang akan kalian pakai jadi bacaan wajib saat kuliah adalah buku berbahasa Inggris yang dipenuhi banyak istilah Bahasa Latin.

Masa ga pake textbook berbahasa Indonesia sama sekali?

Penerjemahan bahan ajar dan hasil penelitian ke Bahasa Indonesia bisa memakan waktu yang lama dan ongkos yang besar. Rata-rata buku berbahasa Indonesia untuk bidang kedokteran itu terlambat 5 tahun dibandingkan edisi bahasa Inggris! Artinya, kalo kalian kekeuh belajar dengan buku bahasa Indonesia saja, buku yang kalian baca itu sudah ketinggalan jaman selama 5 tahun ketika baru terbit. Apalagi jika kalian beli bukunya di pasar/warung loak. Kebayang ga tuh betapa ketinggalannya kalian nanti.

Kenapa faktor ketertinggalan ini penting? Kok kayanya beda ya sama buku kakak saya di jurusan Teknik yang umurnya sudah 10 tahun masih bisa dipakai?

Ilmu kedokteran sekarang sedang maju-majunya. Sebagai ilustrasi aja ya, pada saat generasi saya belajar sekitar tahun 2010, beberapa ilmu yang baru dipelajari oleh generasi dosen saya 10 tahun lalu bahkan sudah dibantah oleh buku-buku kami yang baru terbit 1 tahun sebelumnya. Bisa kebayang kan kalau kamu pakai buku yang ilmunya sudah berumur 5 tahun? Kamu akan dibantah oleh teman kuliah dan kunci ujian sudah berubah tidak mengikuti buku kamu lagi.

Emang Bahasa Inggris yang diperlukan untuk belajar di Kedokteran itu setaraf berapa sih?

Sekolah saya dulu mensyaratkan TOEFL 550 sebelum lulus S1. Beberapa sekolah mungkin sekarang sudah mensyaratkan TOEFL sebelum masuk S1. Namun, pada kenyataannya, bahasa Inggris yang ada di teks buku kedokteran tidak akan selevel TOEFL, tapi selevel tes SAT! Wah apaan tuh? Scholastic Aptitude Test atau SAT adalah ujian saringan masuk universitas di Amerika Serikat (semacam SBMPTN-nya Amerika Serikat lah). Level TOEFL itu fokus ke penggunaan Bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari, sedangkan level SAT fokus pada penggunaan Bahasa Inggris untuk konteks akademik. Jadi, meskipun tidak disyaratkan, ada baiknya kamu belajar bahasa Inggris sampai level SAT agar bisa lebih unggul dari teman2 kuliah Kedokteran kamu nantinya, dalam hal bisa membaca textbook lebih cepat dan lebih akurat.

Kalau kemampuan Kimia, Fisika, Bahasa Inggris, berpikir sistematis saya pas-pasan gimana? Apakah bisa mengejar?

Tentu saja bisa. Justru gerbang awal seleksi itu ada di ujian SBMPTN. Gak heran passing grade Fakultas Kedokteran sangat tinggi karena memang untuk menempuh kuliahnya diperlukan pemahaman Matematika, Sains, dan Bahasa Inggris yang cukup matang. Buat kamu yang mau jadi dokter, jadikanlah SBMPTN ini sebagai ajang untuk mengasah kemampuan fundamental kamu, terutama di Matematika, Sains, dan Bahasa Inggris. Kalo kamu masuk kedokteran tanpa persiapan yang mateng, biasanya nanti kewalahan sendiri, beban belajar jadi berlipat yang akan berpengaruh ke indeks prestasi kamu dan pada akhirnya akan berpengaruh ke kualitas kamu sebagai dokter nantinya. 🙂

Tahapan Sekolah Kedokteran

Oiya, mulai sekarang saya akan lanjut menggunakan istilah Sekolah Kedokteran karena istilah ini yang dipakai dalam Bahasa Inggris, Jepang, Mandari, dan Latin. Sekolah dokter pertama di Indonesia, yaitu STOVIA, juga menggunakan istilah “Sekolah”.

Sekolah Kedokteran memiliki sistem yang jauh berbeda dengan jurusan-jurusan dalam suatu universitas pada umumnya. Yuk kita urutkan tahap-tahap bagaimana kalian akan menjalani kehidupan di Sekolah Kedokteran.

Durasi untuk menyelesaikan studi menjadi dokter adalah MINIMAL 6 tahun. Angka 6 tahun itu kalo kamu rajin belajar dan konsisten lho. Kalo kuliah kamu males-malesan, ya bisa jauh lebih lama dari itu. Tergantung pula sistem masing-masing universitas.

1. Program Kuliah Sarjana (S1) Kedokteran

Setelah dinyatakan lulus dan diterima sebagai mahasiswa baru jurusan Kedokteran, kamu akan menjalani Program Sarjana Kedokteran. Pada program ini, kamu tidak akan belajar dengan Sistem Kebut Semalam karena mustahil menelan ilmu ribuan halaman dalam semalam. Kalian juga tidak akan mengikuti sistem kredit atau SKS dalam menjalani kuliah seperti jurusan kuliah lain. Kalian akan menjalani sistem blok.

Dalam 1 blok, kalian akan belajar tentang SATU sistem organ, mulai dari fungsi dasarnya, penyakit-penyakitnya, obat-obatan yang bisa bekerja di sistem organ tersebut, cara pemeriksaan pada pasien dan intepretasi pemeriksaan laboratorium pada kasus gangguan organ tersebut. Contoh-contoh blok di Sekolah Kedokteran:

  • Fundamental and Basic Sciences
  • Cardiology and Circulatory and Respiratory System
  • Neurobehavior and Special Senses System
  • dll

Satu semester tidak bisa dijamin dibagi hanya 1 atau 2 blok saja. Sebagai contoh, semester pertama saya diisi oleh 4 blok, sedangkan semester berikutnya hanya 1 blok saja, dan semester-semester lainnya diisi rata-rata oleh 2 blok.

Pada akhir masa tiap blok, kalian akan menghadapi beberapa jenis ujian:

A. Ujian OSCE

Ujian keterampilan memeriksa “pasien pura-pura” atau manekin dan menafsirkan hasil pemeriksaan menjadi diagnosis. Ujian ini terkenal “horror” di kalangan mahasiswa Kedokteran karena dilaksanakan dalam waktu singkat dan diawasi langsung oleh dokter penguji.

Sumber: http://fk.unand.ac.id/index.php/en/home/895-uji-coba-ujian-osce-ukdi

B. Ujian Teori Tertulis

Kalo Ulangan di Sekolah atau Ujian Semester biasanya soal PG kamu berapa nomor? 40 nomor? 50 nomor? Di ujian tertulis kedokteran, soal Pilihan Ganda yang jumlahnya mencapai 500 soal sekali ujian. 

C. Ujian Teori Oral

Kamu harus menjelaskan secara lisan 1 kasus pasien, mulai dari konsep sains dasarnya, penatalaksanaan (treatment),alasan-alasan mengapa tindakan tersebut diambil, serta ekspektasi ke depannya dari kondisi pasien ini.

Memasuki tahun terakhir perkuliahan, kamu akan lanjut mengerjakan Skripsi. Sekelar skripsi, kamu pun bisa lulus S1 dan menjalani wisuda sebagai Sarjana Kedokteran (S.Ked). Waktu yang dibutuhkan untuk lulus S1 adalah sekitar 4 tahun. Inget ya, lulus S1 status kamu itu baru jadi seorang Sarjana Kedokteran, belum jadi dokter. Untuk jadi dokter itu masih sangat jauh langkah yang harus ditempuh.

2. Program Profesi Dokter

Perjuangan belum selesai ketika kalian wisuda S1 Kedokteran. Kamu “baru dapat ilmunya”, tapi belum bisa bekerja sebagai dokter profesional. Oleh karena itu, kamu akan lanjut mengambil Program Profesi Dokter dan menjadi dokter muda, atau istilah populernya Koas.

Sumber: https://soniarahma.wordpress.com/2014/04/05/pembekalan-koas/

Pada program Profesi Dokter, kamu akan masuk ke tahap stase (di negara lain sering disebut rotasi). Kalian akan dirotasi dari bagian ke bagian di rumah sakit untuk mempelajari kasus-kasus dokter umum yang tertera di Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Ada sekitar 400an kasus yang harus bisa kalian tangani tanpa bantuan, seperti penyakit dalam, bedah, penyakit anak, kandungan, dll. Pada masa ini, seorang koas tidak akan digaji. Malahan kamu masih tetap harus bayar biaya pendidikan ke pihak fakultas supaya bisa belajar di RS.

Beberapa orang sangat senang saat masuk sistem rotasi ini karena mereka bisa berinteraksi dengan pasien langsung serta melihat kasus di kehidupan nyata, bukan pada lingkungan yang sudah di-setting saat kuliah. Di sisi lain, beberapa ada yang sangat tidak menikmati sistem ini (baca: sangat tersiksa) karena sudah dihadapkan oleh kenyataan bahwa seorang dokter harus tahan bekerja 24 jam tanpa tidur, makan, minum, ke toilet, bernapas (oke ini lebay), dan lain-lain untuk menempa ilmu di RS.

Pada akhir tiap stase/rotasi, akan ada ujian juga. Metode ujian yang pasti kalian hadapi adalah Mini Case Examination (Mini-C-Ex): kalian akan mewawancarai, memeriksa, menganalisis, serta meresepkan obat pada seorang pasien langsung sambil diawasi dosen/preceptor. Pada beberapa rotasi dan bagian, kadang ada ujian tambahan, seperti ujian lisan, ujian baca foto rontgent pada bagian radiologi, dll.

Kamu akan terus mengikuti ritme ini sampai sekitar 1,5-2 tahun hingga kalian dinyatakan lulus program profesi dokter.

3. Ujian Sertifikasi

Setelah kalian lulus semua rotasi, kalian wajib mengikuti Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). UKMPPD ini akan menguji keterampilan dan pengetahuan kamu untuk menangani 400an kasus yang ada di SKDI. 400an kasus ini lah yang harus dapat kamu tangani baik secara sebagian atau penuh ketika kamu bekerja menjadi dokter umum nantinya.

Sumber: https://www.kaskus.co.id/thread/5102460ae574b4703e000007/5-tahapan-jadi-dokter/

4. Lulus Dokter

Persiapan Ujian Sertifikasi dan pengurusan hal administrasi lainnya bisa memakan waktu 3-4 bulan. Jika sudah dapat tanda lulus UKMPPD, fakultas akhirnya menyandangkan gelar dokter. Kamu akan mengikuti wisuda (lagi) dan mengikrarkan Sumpah Dokter. Oke, sampai tahap ini kamu bisa dibilang sudah bisa berhasil menyandang status sebagai seorang dokter. Horeee…!! Eit, tunggu dulu. Walaupun sudah jadi dokter, tapi kamu belum boleh praktik! Lho kok gitu?

Sumber: http://malahayati.ac.id/?p=13059

5. Internsip

Loh, ini apa? Kan sudah ada gelar dokter, kok masih ada lanjutannya? Jadi.. seorang dokter di Indonesia baru bisa praktik kerja sendiri jika sudah mengantongi 3 hal berikut:

  1. Gelar profesi dokter dari universitas (langkah no.4 tadi)
  2. Surat Tanda Registrasi (STR) yang diterbitkan oleh Konsili Kedokteran Indonesia
  3. Surat Izin Praktek (SIP) yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Indonesia cabang setempat

Pada masa Internsip yang berlangsung 1 tahun ini, kamu akan praktik kerja untuk mendapatkan STR paten. Kamu akan praktik kerja layaknya dokter umum, tetapi masih berada di bawah tanggung jawab dan perlindungan dokter umum lain yang senior.

Masa ini tentu saja berbeda dengan masa sekolah. Jasa kamu pada masa ini lebih “dianggap” karena kamu akan “digaji” atau mendapat bantuan biaya hidup dari pemerintah yang nominalnya saat ini kurang lebih sama dengan Upah Minimum Regional di Jakarta. Kamu juga memiliki kemandirian yang lebih besar dalam menentukan pemeriksaan dan penanganan pasien. Atasan kamu bukanlah dosen lagi, melainkan pendamping Internsip yang juga adalah dokter umum.

6. Praktik Mandiri

Setelah lulus Internsip sesuai ketentuan pemerintah dan penilaian pendamping internsip, kamu bisa mendaftar untuk mendapatkan STR paten yang nomornya akan kamu pegang seumur hidup, kecuali jika kamu belajar spesialis. Setelah mendapatkan STR ini lah kamu akhirnya bisa bekerja dan berkarya di masyarakat. Menurut peraturan yang ada sekarang ini, seorang dokter boleh memiliki 3 SIP atau bekerja di 3 tempat yang berbeda.

7. Langkah ke Depannya

Wah panjang sekali ya, belum selesai juga jalurnya. Hahaha. Jika kamu tidak puas menjadi dokter umum saja, ada beberapa pilihan jenjang karir yang bisa kalian pilih:

A. Program Profesi Spesialis

Kamu bisa menajamkan keilmuan untuk menjadi dokter spesialis yang khusus menangani satu bidang penyakit saja dan menjadi dokter rujukan dari bidang-bidang lainnya. Kamu bisa cari sendiri ya bidang spesialis yang bisa diambil di Indonesia, kepanjangan kalo dibahas di sini. Rata-rata program spesialisasi ini berlangsung antara 4-5 tahun.

B. Administrasi Sistem Kesehatan & S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Kamu dapat belajar menjadi administrator atau manajer suatu sistem kesehatan atau rumah sakit. Atau kamu ingin bekerja sebagai Kepala Puskesmas? Gelar S2 Ilmi Kesehatan Masyarakat lah yang harus diambil. Selain menjadi dokter, kamu bisa menjadi bagian dari birokrasi tenaga kesehatan yang bekerja di Indonesia.

C. S2 Penelitian/Keilmuan

Cabang ini bisa kalian ambil jika ingin menjadi dosen atau peneliti medis.

D. Lain-lain

Tentu saja ada cabang-cabang lain, seperti dokter yang bekerja di perusahaan asuransi atau perusahaan farmasi. Bisa juga bekerja di luar dunia kesehatan, entah itu menjadi pengusaha atau mungkin kamu mau jadi penyanyi?

****

Oke, kamu bisa lihat ya kalo Sekolah Kedokteran itu memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari sistem kuliah dan ujiannya yang beraneka ragam dan jauh berbeda dengan jurusan lain, adanya sertifikasi, hingga durasi studi yang jauh lebih lama dan berjenjang.

Ketika teman-teman SMA kamu dulu sudah lulus S1, dapat kerja, dan merasakan gaji pertama sebagai fresh graduate, mungkin kamu masih berkutat dengan ujian di Sekolah Kedokteran. Ketika ada teman yang sudah menyelesaikan S2, kamu masih bergelar S1 dan baru saja bekerja berdikari sebagai seorang dokter. Ketika kamu baru lulus dokter spesialis nantinya, mungkin beberapa teman sudah menduduki posisi manajer dengan gaji fantastis, atau menjadi entrepreneur yang sukses, atau sedang S3 dan menapak karir sebagai Professor. Dan ketika seorang sahabat SMA sudah punya anak 3, kamu mungkin masih jomblo.

Karena perjalanan dan tantangan menjadi dokter bukan main-main, pertanyaan selanjutnya adalah, siapkah kamu menjadi dokter?

Siapkah saya menjadi dokter?

Kesiapan seseorang menjadi dokter itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Setelah menjalani berbagai macam ujian dan rintangan dalam pendidikan dokter lah seseorang dapat menjadi siap dengan segala tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada seorang dokter.

Berikut beberapa tips yang bisa saya bagikan untuk memantapkan strategi kamu menjadi dokter yang handal di masa depan:

1. Kecerdasan bukanlah penentu, Mental jauh lebih penting!

Kamu bisa saja super duper jenius dan hanya butuh 1x baca bahan belajar untuk memahami seluk-beluk ilmu kedokteran. Tapi itu tidak cukup mengantarkan kamu lulus pada semester pertama jika tidak punya mental yang kuat.

Ritme perkuliahan Kedokteran sangat padat. Tekanan belajar tinggi. Saya sendiri pernah liat mahasiswa Kedokteran dengan track record prestasi yang biasa saja ketika SMA, tapi bisa lulus tepat waktu. Mental dan niatnya yang kuat membuat dia mampu mendorong diri untuk tidak hanya bergantung pada label kecerdasan semata. Di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa kedokteran yang punya prestasi cemerlang semasa SMA, tetapi memilih pergi karena tekanan yang terlalu besar di Sekolah Kedokteran.

Satu hal penting yang juga sering terlewatkan, seorang dokter harus tegaan (dalam arti mental yang kuat)Tidak jijik saat melihat darah, anggota tubuh yang terlepas, isi tubuh manusia yang terurai, pasien yang sedang meregang nyawa, dan hal-hal tak terbayangkan lainnya. Untuk kamu yang sekarang melihat darah karena luka tergores aja udah takut atau lemes, lebih baik pikir-pikir lagi apakah jalan hidup seorang dokter adalah pilihan yang tepat buat kamu.

2. Menjadi “dokter” bukan menjadi “penolong”

Ada satu catatan tentang realita dunia Kedokteran yang harus kamu pahami:

Seorang dokter bukanlah seorang penolong yang memiliki kemampuan luar biasa. Dokter ibaratnya suatu workstation, di mana sebuah infrastruktur (dalam konteks ini, sistem kesehatan) bisa bekerja. Memang benar bahwa dokter berada di pusat sistem kesehatan, di mana semua keputusan diagnostik dan pengobatan berada di tangannya. Tapi seorang dokter tanpa infrastruktur tidak akan bisa mendiagnosis secara akurat. Kalian tidak bisa menolong siapa-siapa sendirian. Seorang dokter sangat terikat dengan profesi-profesi lain dan sistem kesehatan yang ada. Seorang dokter juga harus berpegang teguh terhadap keilmuan yang baku dan koridor yang sudah ditetapkan oleh sistem rumah sakit dan pemerintah.

Ketika harus bekerja sesuai koridor, seorang dokter kadang menemukan konflik moral, seperti:

  • “Dititipin” oleh Medrep (pihak marketing perusahaan farmasi) untuk resepin obat yang sebenarnya efisiennya masih dipertanyakan atau efisiensinya sama kayak obat generik. Bisa saja menolak, tapi pemasukan si dokter jadi berkurang dan hubungan ke depannya dengan produsen obat jadi ga enak.
  • Ada pasien butuh operasi segera usus bantu. Tapi pasiennya adalah orang yang ga punya uang, pakai BPJS harus ngantri lama padahal pasen harus segera ditangani. Di situ si dokter harus bikin keputusan. Bisa aja bantuin langsung, tapi jasa operasinya TIDAK DIBAYAR dan obat yang diberikan ke pasien adalah obat murah atau tidak sesuai dosis. Wah, berarti dokter tidak bisa menolong pasien kurang mampu dong? Ya bisa saja, dan kadang ada saja dokter yang ikhlas melakukan hal ini, tapi ya dia juga harus siap menerima konsekuensinya, minimal ya rela melakukan operasi tanpa dibayar.
  • Dll

Pada intinya, kamu tidak bisa bekerja di luar sistem dan semudah itu menjadi “penolong” heroik seperti yang mungkin kamu bayangkan. Kamu akan bekerja dan merawat pasien berdasarkan data dan statistik, bukan alasan personal.

Saya lihat ada dokter yang mencari kemapanan dulu, baru bisa sedikit “leluasa” membantu pasiennya. Ada pula dokter yang memang dari awal memilih hidup sederhana dan mendedikasikan hidupnya untuk menolong pasien. Pada akhirnya, kembali lagi ke pilihan hidup masing-masing.

3. Jangan (semata) mencari kemakmuran di sini

“Enak ya jadi dokter. Cuma periksa sebentar, nulis resep 5 menit, dibayar ratusan ribu. Gue mau jadi dokter ah. Biar cepet kaya.”

Maaf, kamu baca sendiri kan di atas, durasi pendidikan dokter itu lama banget! Ga bener kalo kamu mau cepat kaya dengan menjadi dokter. Kalo pun kamu mau jadi kaya dengan jalan menjadi dokter, harus jadi dokter spesialis dulu. Untuk menjadi seorang dokter spesialis, dibutuhkan modal yang sangat besar. Selain itu masa studinya juga tidak sebentar.

Kalo kita bicara 30-50 tahun lalu, memang betul bahwa dokter secara rata-rata lebih makmur dibandingkan dengan rekan-rekannya di profesi lain. Tapi lain cerita dengan masa sekarang. Jika kamu berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah, menjadi dokter memang bisa menaikkan derajat ekonomimu menjadi kelas menengah. Namun pada umumnya, percayalah banyak pekerjaan di zaman sekarang yang bisa mendatangkan uang dan kemakmuran lebih banyak dan lebih cepat dari profesi dokter.

Tambah lagi, jalan menjadi dokter di Indonesia sedang sulit. Profesi dokter memiliki risiko tinggi dan proteksi hukum pada dokter yang terkena kasus dugaan malapraktik masih banyak yang simpang siur. Pemberitaan di kasus malapraktik di media membuat masyarakat menghakimi dokter bahkan sebelum kasusnya selesai diinvestigasi. Satu kasus saja cukup untuk membuat karir kamu tamat dan hidup kamu bermasalah sampai akhir hayat.

4. Cari Skill Lain

Saya pribadi sangat merekomendasikan kamu tetap bereksplorasi mempelajari keahlian lain, bahkan setelah kamu menjadi seorang dokter. Entah itu menjadi entrepreneur, fotografer, atau keahlian lainnya yang bisa menopang hidup kalian selain menjadi dokter. Menjadi dokter jaman sekarang itu ga gampang. Ada baiknya mempersenjatai diri sedini mungkin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.